Harau, Dinas Perikanan Kab. Lima Puluh Kota - Pegawai Dinas Perikanan Bidang Pengelolaan Pembudidayaan Ikan (PPI) melaksanakan kegiatan Monitoring HPI dan Pengukuran Kualitas Air di Pokdakan Pincuran Ruyuang Nagari Solok Bio-Bio Kec. Harau (Rabu / 01/02/23).
Pokdakan Pincuran Ruyuang merupakan Juara Pertama diajang Perlombaan Kelembagaan Kategori Pokdakan di tingkat kabupaten dan Juara Harapan 1 Kategori Pokdakan di tingkat provinsi. Pokdakan Pincuran Ruyung bergerak di bidang pembesaran ikan nila.
Berdasarkan gejala klinis ikan yang mati, ciri-cirinya seperti ikan yang terserang bakteri streptococcus sp.
Ikan yang terserang penyakit Streptococciacis memiliki gejala klinis, yaitu 1. Menunjukkan tingkah laku abnormal seperti kejang atau berputar serta mata menonjol (exopthalmus), 2. Nafsu makan menurun, lemah, tubuh berwarna gelap dan pertumbuhan lambat, 3. Warna gelap di bawah rahang, mata menonjol, pendarahan, perut gembung (dropsy) atau luka yang berkembang menjadi borok, 4. Adakalanya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas kecuali kematian yang terus berlangsung, 5. Pergerakan tidak terarah (nervous) dan pendarahan pada tutup insang (operculum), 5. Sering pula ditemukan bahwa ikan yang terinfeksi terlihat normal sampai sesaat sebelum mati.
Pengendalian penyakit streptococciasis dapat dilakukan dengan cara 1. Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan, 2. Pencegahan secara dini (benih) melalui vaksinasibanti Streptococcus spp, 3. Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan vitamin C pada pakan) secara rutin selama masa pemeliharaan, 4. Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru, 5. Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen)
Berdasarkan hasil pengukuran kualitas air yang dilakukan, hasil menunjukkan bahwa kualitas air sudah sesuai standar. Hal ini disebabkan karena pembudidaya telah melakukan menggantian air baru.
Feedback